Mengulas semua tentang gadis dan wanita yang bakalan bikin kamu tahu

Uncounsious body-shaming: sekedar sapaan tapi kadang menyakitkan



“Wah, kamu kayaknya sekarang makin sehat ya”
“Wow, hidupmu penuh kebahagiaan ya sekarang”
“Wih, kamu makin makmur nih kelihatannya”
“Kamu diet?”
“Lho, kok slim ya sekarang”
Ungkapan-ungkapan tersebut merupakan beberapa kalimat sapaan yang sering sekali diucapkan oleh teman-teman maupun saudara yang sudah beberapa waktu tidak bertemu dengan kita. Memang sekilas tidak ada yang salah karena memang sudah menjadi budaya untuk mengucapkan hal-hal demikian. Hanya saja, apakah kalian menyadari bahwa sebagian besar kalimat yang diungkapkan sebagai kalimat sapaan tersebut merujuk pada keadaan fisik kita yang semakin lebar, bulat, mekar, gembrot, kerempeng, kurus, apapun itu? Terlepas dari beberapa orang yang berkomentar positif (contoh: tapi kamu kelihatan lebih oke begini). Selalu aja setiap baru ketemu yang dikomentarin adalah badan. Why? Whyyyyy?
Biasanya orang-orang seperti itu berdalih, “Lho kan saya bilang kalo body kamu bagusan gitu, saya memuji ini, bukan menghina” yhaa tetap aja kali namanya ngomongin badan. Kesempurnaan itu relatif, cantik itu relatif, perfect body itu relatif, yang tahu ya kita sendiri. Jangan-jangan orang yang kamu bilang “begini aja lebih bagus” lebih suka ke bentuk “yang begitu”.
Kecuali kamu benar-benar orang yang dekat dengan mereka dan kamu benar-benar peduli dengan their physical and mental being. Misal nih, temen kamu tambah kurus atau tambah gemuk, kamu tanya kenapa? Ada masalah? Atau semacam itu, kalau itu masih benar kamu khawatir. Nah ini, udah lama ga ketemu tiba-tiba komen “kamu makin gemuk deh”, atau “kamu makin kurus deh”, atau pake ungkapan lain yang tujuannya sama, mengomentari bentuk badan (atau muka deh, at least). Yha, gimana ya? Saya kan sukanya “yang begitu”, kok Anda pengen saya suka “yang begini”?
“Yaelah sensi amat dah.” – Umm, jadi sensi itu hak saya dong ya. Emangnya Anda tahu bahwa komen Anda itu bisa saja menghantui saya seumur hidup? Ada juga saat keluar bareng, pas di lampu merah ada orang obes naik motor, terus dikomentarin “Yaampun, masa badan sama motor gedean badannya? Itu motornya kesian yak, nanti bisa merotoli” – Hmm, terus apa hubungan antara kita dengan pengendara motor beserta motornya tadi? Julid amat gitu lho maksudnya.

Memang sulit menjadi orang yang body-positive, terlebih dengan komentar-komentar julid dari orang-orang sekitar. Wahai juliders budiman (baik yang ngomong body kita bagusan sekarang, atau yang ngomong bagusan kemaren), sadarilah bahwa komentar kalian itu tidak membantu korban julid melakukan program yang pengurangan atau penambahan berat badan yang sehat. Kemauan untuk mengubah gaya hidup yang membuat hati senang lah yang dapat benar-benar membuat seseorang mengurangi atau menambah berat badan dengan cara yang sehat. Kalau kita terus-terusan dikomen mana bisa hepi? “Yha kan q peduli dengan kesehatanmu das why me komen you punya bentuk badan” – Peduli? Mending sampean langsung daftarin saya ke gym sekalian sewain Personal Trainer biar saya benar-benar sehat, ah elah. Gitu nggak sih?
Bukan cuma di Indonesia, hampir di seluruh negara kawasan Asia memiliki budaya body-shaming seperti yang di atas. Bahkan di Jepang, suatu majalah menerbitkan artikel yang berisi daftar ciri-ciri dari wanita ideal, dan itu detail banget.

Seperti kalimat saya di paragraf sebelumnya bahwa kecantikan dan kesempurnaan itu bersifat relatif. Tidak ada yang salah untuk menginginkan wanita atau pria ideal idaman, namun belum tentu yang ideal menurut kalian itu ideal menurut saya, atau orang lain. Melakukan generalisir atas idealnya sesuatu bisa berbahaya, terutama bagi ABG yang masih labil. Coba bayangkan ketika ditetapkan bahwa cewek ideal itu yang tingginya 160 cm dan berat badannya 48 kg, terus bagaimana dengan perasaan cewek-cewek di luar kriteria itu? Sedih, marah, akhirnya bisa sampai putus asa.
Bagi kalian yang masih sebel lihat bentuk badan yang terlalu kurus, terlalu gemuk, terlalu apapun; Kalian tidak perlu memaksa diri untuk menyukai bentuk badan kalian, tapi yha jangan benci juga. Memang komentar-komentar julid yang selalu berdatangan pasti ada yang menusuk dan menghantui hidup kalian, tapi jangan biarkan kejulidan tersebut membuat kalian membenci tubuh kalian sendiri. Anggap saja mereka bermaksud baik, mengingatkan. Yha emang salah sih, cuma kan mereka juga produk dari kebudayaan kita sendiri yang memang susah dihilangkan.
Memiliki badan yang sehat, termasuk menentukan seberapa banyak makanan yang bisa kalian konsumsi, seberapa sering kalian harus berolahraga, dan bagaimana bentuk tubuh itu hak kalian.  Tapi ada satu hal penting di sini, kalau kalian mencintai tubuh kalian apa adanya, kalian akan berusaha untuk membuatnya menjadi lebih kuat (bukan membuatnya kelaparan, atau menyiksa tubuh kalian dengan cara lain). Jadi tujuan utamanya adalah sehat yes!
Setelah ini, kalau nyapa teman atau saudara yang udah beberapa waktu nggak ketemu, nggak usah ngomongin badan ya. (sn)

Share:

No comments:

Post a Comment