Mengulas semua tentang gadis dan wanita yang bakalan bikin kamu tahu

Nyai Ontosoroh

























NYAI ONTOSOROH
 “ Jangan anggap remeh manusia yang kelihatannya begitu sederhana ; biar pengelihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan, pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput “
Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia
Nyai Ontosoroh sebenarnya adalah sosok fiktif dengan karakter nyata yang diangkat dalam novel karya Pramodya Ananta Toer a.k.a Pram. Dalam novel tetralogi “Pulau Buru” yang berjudul “Bumi Manusia”, Pram menceritakan sosok wanita tangguh yaitu Nyai Ontosoroh, anak dari seorang juru tulis di Pabrik Gula Tulangan sekitar akhir abad 19.
Salah satu novel terbaik karya Pram ini mengangkat Sidoarjo menjadi salah satu latar utama dan tentunya akan berdampak pada potensi wisata Sidoarjo. PG Tulangan kembali me-recoverypabrik dengan mengembalikan ornamen-ornamen zaman Belanda mulai dari lantai marmer, lampu hias, dan benda kuno lainnya yang khas dengan Belanda kala itu dan selain jadi destinasi wisata heritage, pabrik ini juga menyediakan guest house tuk para pengunjung yang ingin bemalam dan gedung pertemuan di PG Tulangan juga akan diubah menjadi museum dan kafe. Museum tersebut akan ‘bercerita’ tentang sejarah pabrik yang berdiri mulai dari tahun 1850-an.
Berikut beberapa suri tauladan Nyai Ontosoroh, yang dapat menginspirasi gadis dan wanita indonesia agar menjadi wanita tangguh.

1.      Terus berusaha bangkit dari keterbatasan
Hidup Nyai Ontosoroh iku penuh perjuangan. Karena ayahnya yang haus jabatan, maka akhirnya dari umur 14 tahun Nyai Ontosoroh dijadikan gundik atau bahasa kasarnya adalah wanita simpanan pengusaha Belanda. Dalam masa terpuruknya menjadi gundik serta merta dianggap remeh bahkan di-bully. Lebih terpuruk lagi ketika, hanya menjadi wanita simpanan yang tidak dinikahi secara sah tapi juga harus mengurusi ‘suami ala-ala’-nya tersebut. Siapa juga to yang betah hidup dalam keterpurukan? Dengan semangat membara Nyai Ontosoroh mencoba bangkit dengan cara belajar dan mempelajari banyak hal yang beliau belum tau. Karena dengan belajar, beliau berpendapat bahwa dengan belajar hidupnya dapat lebih baik lagi sehingga tyda akan bisa dibohongi dan bisa melawan kejahatan dengan cara yang elegan.
Nyai Ontosoroh terus belajar bahasa Belanda, bahasa Melayu, budaya, hukum Belanda, tata niaga Belanda dan masih banyak yang lainnya. Tyda menyerah dengan emosi dan keterpurukan, maka lakukanlah hal yang bermanfaat kawan. Pabila anda galau, bisa lah mengikuti kegiatan komunitas, belajar masak, atau mengeksplor soft skill lainnya yang semakin mudah didapat di era modern sekarang. Maka lawanlah rasa pasarah dan magermu~
 
2.      Menjadi wanita mandiri, tangguh, dan bisa diandalkan adalah yang utama
Setelah suaminya meninggal, Nyai Ontosoroh haruslah menjadi wanita mandiri yang juga mengurusi anak-anaknya sendiri dan mengurusi perusahaan suaminya. kembali dipandang remeh lagi oleh masyarakat, karena tlah menjadi janda tapi Nyai Ontosoroh tetap bisa membuktikan bahwa dirinya bukanlah wanita lemah. Dengan hasil ketekunan belajar, Nyai Ontosoroh juga tetap bisa mengurus semuanya sendiri termasuk memperjuangkan hak-nya sebagai perempuan. Ibarat e, wani perih timbangane kudu ngemis kono kene.
Karena pada hakikatnya, menjadi wanita mandiri itu seru Lur. Kita tak akan menyusahkan atau bahkan bergantung pada orang lain. Jadi wanita tangguh dan bisa diandalkan juga bermanfaat bagi diri kita sendiri karena kita bisa menggapai cita-cita dan menjadi good influencer to other people. Siapa dong yang ga bangga dengan diri sendiri karena bisa memberikan efek baik karena prestasi kita? Makanya, teruslah explore diri, keluar dari zona nyaman, and try to do it yourself girls!

3.      Realistis idealis
Dengan karakter tangguh nan mandiri, tapi tyda menutup kemungkinan bahawa kita tak butuh pendamping hidup. Memang kita hidup kan berpasang-pasangan. Tapi fenomena menarik adalah ketika bocah-bocah abg labil sekarang sudah pada pacaran layaknya orang dewasa. Sedangkan yang jomblo-jomblo di-bully dan menjadi galau karena merasa dirinya tak laku-laku. C’mon girls, hidup tak melulu tentang romansa percintaan yang manis di awal. Hidup ini tentang indahnya menggapai cita-cita. Baru deh sosok yang tepat itu juga akan datang dan kembali menggapai indahnya cita-cita bersama. Idealis boleh, tapi realistis juga harus ya.
Jadi, kutipan Nyai Ontosoroh ini benar-benar dapat memotivasi kita tuk menjadi perempuan hebat sesungguhnya. “Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai”. Semangat girls!



Share:
Location: Sidoarjo Regency, East Java, Indonesia

No comments:

Post a Comment